Waktu itu amat berharga bagi seorang muslim.
Jika ia benar-benar menjaganya dalam ketaatan pada Allah SWT atau dalam hal
yang bermanfaat, itu menunjukkan kebaikan dirinya. Nabi Muhammad SAW pernah
bersabda ;
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang
tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Jika kita menyia-nyiakan waktu dalam hidup ini,
itu tanda Allah SWT melupakan kita. Seorang ulama yang bernama ‘Arif Al
Yamani berkata,
إن من إعراض الله عن العبد أن يشغله بما لا ينفعه
“Di antara tanda Allah berpaling dari seorang hamba, Allah
menjadikannya sibuk dalam hal yang sia-sia.” (Hilyatul Awliya’,
10: 134).
Tanda waktu itu begitu berharga bagi seorang
muslim karena kelak ia akan ditanya, di mana waktu tersebut dihabiskan,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى
يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ
مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا
أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat
hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di
manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia
infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no.
2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Menyia-nyiakan waktu hanya untuk
menunggu-nunggu pergantian waktu, itu sebenarnya lebih parah dari kematian.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Fawa-id berkata,
اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ
الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ
الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا
“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena
menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat.
Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”
Sebagian orang kegirangan jikalau ia diberi
waktu yang panjang di dunia. Bahkan inilah harapan ketika nyawanya telah
dicabut, ia ingin kembali di dunia untuk dipanjangkan umurnya supaya bisa
beramal sholih. Orang-orang seperti inilah yang menyesal di akhirat kelak,
semoga kita tidak termasuk orang-orang semacam itu. Allah SWT berfirman ;
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ
ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ
هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka,
dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal
yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya
itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampal hari mereka dibangkitkan” (QS. Al Mu’minun: 99-100).
Ketika orang kafir masuk ke neraka, mereka
berharap keluar dan kembali ke dunia dan dipanjangkan umur supaya mereka bisa
beramal. Allah SWT berfirman;
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ
صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ
فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ
نَصِيرٍ
“Dan mereka (orang-orang yang ingkar) berteriak di dalam neraka
itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang
saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak
memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau
berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka
rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang
penolongpun.” (QS. Fathir: 37).
Tidak ada awal dan akhir tahun, yang ada
hanyalah umur yang semakin berkurang. Mengapa kita selalu berpikir bahwa umur
kita bertambah, namun tidak memikirkan ajar semakin dekat? Hasan Al Bashri
mengatakan,
ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari.
Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”
(Hilyatul Awliya’, 2: 148)
Al Hasan Al Bashri juga pernah berkata ;
لم يزل الليلُ والنهار سريعين في نقص الأعمار، وتقريبِ الآجال
“Malam dan siang akan terus berlalu dengan cepat dan umur pun
berkurang, ajal (kematian) pun semakin dekat.” (Jaami’ul ‘Ulum
wal Hikam, 2: 383).
Jadi sungguh keliru, jika sebagian kita malah
merayakan ulang tahun karena kita merasa telah bertambahnya umur. Seharusnya
yang kita rasakan adalah umur kita semakin berkurang, lalu kita renungkan
bagaimanakah amal kita selama hidup ini? Bukankah yang Islam ajarkan, kita
jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk
akhirat. Ibnu ‘Umar pernah berkata ;
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا
أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ،
وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu
pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu
sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini mengajarkan untuk tidak panjang angan-angan,
bahwa hidup kita tidak lama.
‘Aun
bin ‘Abdullah berkata, “Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu
banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya.
Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa
menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan
benci terhadap sikap panjang angan-angan.” ‘Aun juga berkata,
إنَّ من أنفع أيام المؤمن له في الدنيا ما ظن أنَّه لا يدرك
آخره
“Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia
adalah ia merasa bahwa hari besok sulit ia temui.” Lihat Jaami’ul ‘Ulum
wal Hikam, 2: 385.
Semoga Allah SWT
memberi kemudahan kepada kita untuk bisa memanfaatkan kesempatan yang telah
diberikan Allah SWT untuk mengabdi kepada-Nya sampai akhir kehidupan.
Amien.*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar