Dosa itu terbagi menjadi dua yaitu dosa besar
dan dosa kecil. Namun perlu diketahui bahwa dosa kecil sebenarnya bisa menjadi
besar, jika dilakukan karena sebab-sebab berikut ;
Pertama: Dosa kecil tersebut sudah menjadi
kebiasaan dan dilakukan terus menerus.
Terdapat sebuah hadits :
لاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الاِسْتِغْفَارِ وَ لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ
الإِصْرَارِ
“Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta
ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus. (Dhoiful Jaami’ no. 6308. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab
dengan sanad lainnya dari Ibnu ‘Abbas namun mauquf (perkataan Ibnu ‘Abbas),
periwayatnya tsiqoh (terpercaya).
Kedua: Dosa bisa dianggap besar di sisi Allah
jika seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut.
Jika seorang hamba menganggap besar suatu dosa,
maka dosa itu akan kecil di sisi Allah SWT. Sedangkan jika seorang hamba
menggaggap kecil (remeh) suatu dosa, maka dosa itu akan dianggap besar di sisi
Allah. Ibnu Mas’ud RA mengatakan;
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ
جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ
كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk
di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan
seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor
lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab
Shahihnya no. 6308)
Sahabat Anas bin Malik RA mengatakan ;
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى
أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ –
صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata
kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi SAW menganggap
dosa semacam itu seperti dosa besar.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab
Shahihnya no. 6492)
Ketiga: Memamerkan suatu dosa dihadapan manusia,
dan merasa bangga dengan dosa tersebut.
Rasulullah SAW bersabda ;
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافَاةٌ إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ
مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ
قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ فَيَقُولُ يَا فُلاَنُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا
وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ فَيَبِيتُ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ
يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di
antara bentuk melakukan jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat,
namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita,
“Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam
Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri
yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.” (HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990, dari
Abu Hurairah RA )
Keempat: Dosa tersebut dilakukan oleh seorang yang
berilmu yang dia menjadi panutan bagi
yang lain. Nabi Muhammad SAW
bersabda ;
وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ
مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan
oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang
mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017).****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar