Sesungguhnya karunia yang termulia
adalah mengikhlaskan peribadatan hanya kepada Allah SWT dan mengarahnya hati
kepada Allah SWT.
Seorang
muslim hendaknya mempertahankan karunia ini dan menjaga hatinya dari perkara
yang bisa mengotorinya, karena syaitan senantiasa mengawasi dari segala sisi
agar menghilangkan karunia tersebut darinya. Allah SWT berfirman:
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ
أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا
تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“(Iblis berkata): Kemudian saya akan mendatangi
mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan
Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”
(QS. Al-A’rof: 17).
Mempertahankan
karunia hidayah semakin ditekankan tatkala muncul fitnah. Tidak ada satu fitnah
pun kecuali akan mendatangi setiap hati, sebagai bagaimana tali-tali tikar yang
meliputi tikar. Dan fitnah sebagaimana dalam hal keburukan demikian juga fitnah
dalam hal kebaikan seperti fitnah dengan harta, anak-anak, dan kesehatan. Allah
SWT berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ
وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu
dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’: 35).
Allah
SWT telah memerintahkan nabi-Nya Muhammad SAW
untuk beristiqomah dan tidak mengikuti hawa nafsu, Allah SWT
berfirman:
وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا
تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
“Dan tetaplah sebagai mana diperintahkan
kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.”
(QS. As-Syuroo: 15).
Dan
Allah SWT memerintahkan semua muslim untuk memohon hidayah kepada Robb-nya 17
kali dan agar bisa tegar di atasnya;
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Afatihah: 6).
Dan diantara kebiasaan orang-orang
sholeh adalah khawatir iman mereka berkurang atau hilang. Nabi kita Muhammad SAW
membuka doanya dengan tauhid dan menutupnya juga dengan tauhid. Beliau SAW
sering berdoa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ
قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai pembolak-balik hati, kokohkanlah hatiku
di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi).
Dan
keimanan menjadi lusuh sebagaimana baju yang lusuh, dan memperbaharuinya adalah
dengan bertaubat dan beristighfar setiap saat dan waktu, dan bersegara melakukannya
demi menjaga hati dan mencucinya dari kotoran-kotoran dosa. Nabi Muhammad SAW
bersabda:
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ
خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ
وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى
تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
“Sesungguhnya hamba jika melakukan sebah dosa
maka tertulis pada hatinya titik hitam. Jika ia meninggalkan dosa tersebut dan beristighfar
serta bertaubat maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali maka ditambah
titik-titik hitam tersebut hingga akhirnya menutupi hatinya, dan itulah kotoran
hitam yang menutupi yang telah disebutkan oleh Allah (Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka).” (HR. At-Tirmidzi).
Bersihnya
tauhid dan mengajarkannya adalah sebab terbesar untuk tegar di atas agama
sebagaimana firman Allah SWT tentang ashabul kahfi:
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ
قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ
دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
“Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu
mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami
sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian
telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi:
14).
Dan
hidayah di tangan Allah SWT semata, Dialah Pemberi hidayah maha suci Allah.
Siapa yang disesatkan oleh Allah SWT maka tidak ada pemberi petunjuk baginya,
Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ
إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian seluruhnya
tersesat kecuali yang Aku beri hidayah kepadanya.”
(HR. Muslim).
Jika
angin fitnah telah berhembus dan gelombang ombak-ombak penyesatan saling
bertabrakan, maka penyelamatnya adalah bersegera untuk beramal shalih. Nabi Muhammad SAW
bersabda:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا
كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى
كَافِرًا، أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرضٍ
مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah melakukan amal sebelum datangnya
fitnah yang seperti potongan malam yang gulita, maka dipagi hari seseorang
masih mukmin dan di sore hari telah kafir, seseorang di sore hari masih mukmin
dan di pagi hari telah kafir, ia menjual agamanya dengan sepotong dunia.” (HR.
Muslim).
Menjalankan
perintah Allah SWT setelah mendengar nasehat merupakan jalan-jalan ketegaran
iman. Allah SWT berfirman :
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا
يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan
pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih
baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).”
(QS. An-Nisaa’: 66).
Ikhlas
kepada Allah SWT akan mengantarkan sampai kepada Allah SWT, dan keselamatan
dari segala yang mencegahnya menuju Allah SWT. Allah SWT berirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا
لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat
baik.” (QS. Al-Ankabuut: 69).
Barangsiapa
yang buruk niatnya, dan menyimpang batinnya maka dampaknya akan kelihatan pada
agamanya dan perilakunya. Nabi ‘Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ
أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيَما يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإنَّ
الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِن
أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya
seseorang benar-benar mengamalkan amalan penghuni surga menurut yang nampak di
hadapan manusia, akan tetapi sesungguhnya ia adalah penghuni neraka, dan
seseorang mengamalkan amalan penghuni neraka menurut yang nampak pada manusia,
akan tetapi sungguh ia termasuk penghuni surga.”
(HR. Al-Bukhari). Ibnu
Rojab rahimahullah berkata, “Sabda Nabi “Menurut yang nampak di manusia”
merupakan isyarat bahwa batinnya berbeda dengan yang terlihat, dan sesungguhnya
suu’l khatimah (kematian yang buruk) disebabkan karena penyimpangan batil yang
ada pada seorang hamba yang manusia tidak mengetahuinya”. Dan
mengikuti sunnah Rasulullah SAW merupakan penjaga dan penyelamat. Allah SWT
berfirman;
وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“Dan
jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nuur: 54).
Syaikhul
Islam rahimahullah berkata, “Semakin seseorang mengikuti sunnah Muhammad SAW maka semakin ia mentauhidkan Allah SWT dan
semakin ikhlas dalam memurnikan agama. Jika ia jauh dari meneladani Nabi
Muhammad SAW maka akan berkurang agamanya sesuai kadar jauhnya”.
Bersihnya
hati dan selamatnya hati serta ikhlasnya hati merupakan penyebab datangnya
ketegaran di atas iman, dan perkara yang terbesar Allah memalingkan hamba dari
sebab kesesatan. Allah SWT berfirman tentang Yusuf ‘alaihis salaam :
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ
وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari
padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba
Kami yang terpilih (yang ikhlas).” (QS. Yusuf:
24).
Dan
berkesinambungan dalam beramal sholeh –meskipun sedikit- merupakan jalan menuju
ketegaran di atasnya disertai tambahan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ
تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah ta’aala
adalah yang paling kontinyu meskipun sedikit.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Sesungguhnya
istiqomah di atas ketaatan dan tegar di atasnya merupakan sebab kebahagiaan di
dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا
اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
“Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”
(QS. Al-Ahqoof: 13).
Dan
pahala ibadah tatkala di zaman fitnah lebih utama, Nabi Muhammad SAW
bersabda:
الْعِبَادَة فِي الْهَرج كالهجرة
إِلَيّ
“Ibadah
tatkala zaman pembunuhan dan fitnah seperti berhijrah kepadaku.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar