Rabu, 10 Agustus 2016

Tegar Di Atas Jalan Islam Di Zaman Fitnah


Sesungguhnya karunia yang termulia adalah mengikhlaskan peribadatan hanya kepada Allah SWT dan mengarahnya hati kepada Allah SWT.
Seorang muslim hendaknya mempertahankan karunia ini dan menjaga hatinya dari perkara yang bisa mengotorinya, karena syaitan senantiasa mengawasi dari segala sisi agar menghilangkan karunia tersebut darinya. Allah SWT berfirman:
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“(Iblis berkata): Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’rof: 17).
Mempertahankan karunia hidayah semakin ditekankan tatkala muncul fitnah. Tidak ada satu fitnah pun kecuali akan mendatangi setiap hati, sebagai bagaimana tali-tali tikar yang meliputi tikar. Dan fitnah sebagaimana dalam hal keburukan demikian juga fitnah dalam hal kebaikan seperti fitnah dengan harta, anak-anak, dan kesehatan. Allah SWT berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’: 35).
Allah SWT  telah memerintahkan nabi-Nya Muhammad SAW untuk beristiqomah dan tidak mengikuti hawa nafsu, Allah SWT berfirman:
وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
“Dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. As-Syuroo: 15).
Dan Allah SWT memerintahkan semua muslim untuk memohon hidayah kepada Robb-nya 17 kali dan agar bisa tegar di atasnya;
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Afatihah: 6).
Dan diantara kebiasaan orang-orang sholeh adalah khawatir iman mereka berkurang atau hilang. Nabi kita Muhammad SAW membuka doanya dengan tauhid dan menutupnya juga dengan tauhid. Beliau SAW sering berdoa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai pembolak-balik hati, kokohkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi).
Dan keimanan menjadi lusuh sebagaimana baju yang lusuh, dan memperbaharuinya adalah dengan bertaubat dan beristighfar setiap saat dan waktu, dan bersegara melakukannya demi menjaga hati dan mencucinya dari kotoran-kotoran dosa. Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
“Sesungguhnya hamba jika melakukan sebah dosa maka tertulis pada hatinya titik hitam. Jika ia meninggalkan dosa tersebut dan beristighfar serta bertaubat maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali maka ditambah titik-titik hitam tersebut hingga akhirnya menutupi hatinya, dan itulah kotoran hitam yang menutupi yang telah disebutkan oleh Allah (Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka).” (HR. At-Tirmidzi).
Bersihnya tauhid dan mengajarkannya adalah sebab terbesar untuk tegar di atas agama sebagaimana firman Allah SWT tentang ashabul kahfi:
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi: 14).
Dan hidayah di tangan Allah SWT semata, Dialah Pemberi hidayah maha suci Allah. Siapa yang disesatkan oleh Allah SWT maka tidak ada pemberi petunjuk baginya, Allah SWT  berfirman dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian seluruhnya tersesat kecuali yang Aku beri hidayah kepadanya.” (HR. Muslim).
Jika angin fitnah telah berhembus dan gelombang ombak-ombak penyesatan saling bertabrakan, maka penyelamatnya adalah bersegera untuk beramal shalih. Nabi Muhammad SAW bersabda:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا، أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah melakukan amal sebelum datangnya fitnah yang seperti potongan malam yang gulita, maka dipagi hari seseorang masih mukmin dan di sore hari telah kafir, seseorang di sore hari masih mukmin dan di pagi hari telah kafir, ia menjual agamanya dengan sepotong dunia.” (HR. Muslim).
Menjalankan perintah Allah SWT setelah mendengar nasehat merupakan jalan-jalan ketegaran iman. Allah SWT berfirman :
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS. An-Nisaa’: 66).
Ikhlas kepada Allah SWT akan mengantarkan sampai kepada Allah SWT, dan keselamatan dari segala yang mencegahnya menuju Allah SWT. Allah SWT berirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut: 69).
Barangsiapa yang buruk niatnya, dan menyimpang batinnya maka dampaknya akan kelihatan pada agamanya dan perilakunya. Nabi ‘Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيَما يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِن أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya seseorang benar-benar mengamalkan amalan penghuni surga menurut yang nampak di hadapan manusia, akan tetapi sesungguhnya ia adalah penghuni neraka, dan seseorang mengamalkan amalan penghuni neraka menurut yang nampak pada manusia, akan tetapi sungguh ia termasuk penghuni surga.” (HR. Al-Bukhari).  Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Sabda Nabi “Menurut yang nampak di manusia” merupakan isyarat bahwa batinnya berbeda dengan yang terlihat, dan sesungguhnya suu’l khatimah (kematian yang buruk) disebabkan karena penyimpangan batil yang ada pada seorang hamba yang manusia tidak mengetahuinya”. Dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW merupakan penjaga dan penyelamat. Allah SWT berfirman;
وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. An-Nuur: 54).
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Semakin seseorang mengikuti sunnah Muhammad SAW  maka semakin ia mentauhidkan Allah SWT dan semakin ikhlas dalam memurnikan agama. Jika ia jauh dari meneladani Nabi Muhammad SAW maka akan berkurang agamanya sesuai kadar jauhnya”.
Bersihnya hati dan selamatnya hati serta ikhlasnya hati merupakan penyebab datangnya ketegaran di atas iman, dan perkara yang terbesar Allah memalingkan hamba dari sebab kesesatan. Allah SWT berfirman tentang Yusuf ‘alaihis salaam :
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (yang ikhlas).” (QS. Yusuf: 24).
Dan berkesinambungan dalam beramal sholeh –meskipun sedikit- merupakan jalan menuju ketegaran di atasnya disertai tambahan. Nabi Muhammad SAW  bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah ta’aala adalah yang paling kontinyu meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Sesungguhnya istiqomah di atas ketaatan dan tegar di atasnya merupakan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqoof: 13).
Dan pahala ibadah tatkala di zaman fitnah lebih utama, Nabi Muhammad SAW bersabda:
الْعِبَادَة فِي الْهَرج كالهجرة إِلَيّ
“Ibadah tatkala zaman pembunuhan dan fitnah seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar